News Portal

Gabe Adams Pria yang Tidak Memiliki Tangan dan Kaki

Gabe Adams, 22 tahun dilahirkan di Sao Paulo Brazil dengan kondisi yang menyedihkan. Dia tidak memiliki tangan dan kaki. Dia hanya memiliki tubuh dan kepala. Di istilah medis penyakit ni dikenal dengan Hanhart Syndrome.

Hanhart Syndrome adalah kondisi langka yang mempengaruhi daerah tulang kepala dan tulang-tulang di bagian wajah (kraniofasial) dan anggota badan, terutama lengan dan kaki.

Orang yang menderita kondisi ini seringkali terlahir dengan rahang yang tidak berkembang sempurna; jari tangan dan/atau jari kaki tidak ada atau hilang sebagian, kelainan pada lengan dan/atau tungkai; dan rahang yang sangat kecil, di kasus Gabe, dia tidak memiliki  tangan dan kaki sama sekali.

Saat ini Gabe Adams tinggal bersama 13 saudaranya dan orangtua angkatnya di Utah, Ron Adams dan Janelle. Gabe diadopsi sejak bayi, sehingga mereka sudah menganggapnya seperti anak kandung sendiri.

Meskipun Gabe memiliki kondisi yang berbeda dari saudara-saudaranya, orangtua Gabe tetap  memperlakukan yang sama seperti saudara-saudara Gabe lainnya. Bahkan sejak kecil Gabe sudah diajarkan untuk tidak bergantung dengan orang lain. Alhasil, Gabe saat ini bisa berjalan, mengganti baju, memasak, naik turun tangga sendiri.  Untuk mempermudah aktivitasnya, Gabe menggunakan kursi roda elektriknya.

Gabe lulus SMA dengan prestasi yang memuaskan. Bahkan dia juga aktif dalam kegiatan menari di sekolahnya, sehingga membuatnya banyak teman.

Kisah hidup Gabe Adams mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dengan kondisi yang kita miliki saat ini. Jangan mengeluh dengan keadaan fisik kita saat ini, karena banyak sekali orang-orang yang keadaannya jauh lebih tidak beruntung dari kita, dan mereka tidak pernah berputus asa dan mengeluh dengan keadaannya. Jangan pernah berhenti bersyukur.

Tan Tjaen Eng Hidup Dengan Tumor di Sekujur Tubuhnya

Tan Tjaen Eng, 59 tahun adalah salah satu warga Indonesia penderita tumor kulit terparah di dunia. Penyakit ini dikenal dengan nama Neurofibromatosis. Seluruh permukaan tubuhnya,kepala, badan, tangan, kaki punggung sudah dipenuhi benjolan-benjolan tumor jinak.


Tan Tjaen Eng awalnya dilahirkan dengan normal. Kisah sedih Tan berawal saat dia berumur 5 tahun.  Saat itu ia jatuh saat bermain bola, dan melukai matanya. Kejadian itu meninggalkan benjolan yang besar.


Dokter sudah menyarankan untuk segera dioperasi, namun karena khawatir akan terjadi apa-apa nanti ke depannya, orangtua Tan menolak saran dokter tersebut. Saat usianya menginjak 25 tahun, benjolan-benjolan ini semakin parah dan mulai menyebar hampir di seluruh tubuhnya.


Kondisi ini membuatnya kehilangan kesempatan untuk mencari pekerjaan. Untungnya adik bungsunya, Salim, merawatnya. Saat ini Tan tinggal di Bekasi Utara bersama adik dan keponakannya.

Tan Tjaen Eng tidak pernah merasa sedih dengan kondisi yang membuatnya sulit berbicara dan melihat ini. Dia yakin ini semua sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuknya.


Salim dan juga keponakan Tan sangat kagum dengan ketabahan Tan yang luar biasa meski ia dikucilkan oleh warga sekitar. Tan tidak pernah merasa sedih dan malu karena orang-orang tidak ada yang mau mendekatinya.

Diwakar Bisoye Manusia dengan 1000 Tumor Kulit

Diwakar Bisoye, 67 tahun, adalah salah satu manusia yang memiliki tumor kulit terparah dan terekstrim di dunia. Hampir 100% di sekujur tubuhnya sudah dipenuhi dengan benjolan-benjolan, dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya, sehingga dia dijuluki sebagai manusia dengan 1000 tumor kulit. Sebuah kelainan genetik yang ddisebut Neurofibromatosis menyebabkan seluruh permukaan tubuhnya ditumbuhi tumor kulit.

Diwakar tinggal di Odishe, India. Tumor ganas ini muncul pertama kali saat ia berumur sekitar 15 tahun. Hingga saat itu benjolan-benjolan di kulitnya menyebar dengan sangat cepat menjalar di seluruh tubuhnya.

Dari sekian banyak tumor di tubuhnya, terdapat 1 tumor yang sangat besar yang tumbuh di paha kirinya. Berat tumor itu sekitar 30 kg. Benjolan inilah yang paling parah dan sangat mengganggu aktivitas Diwakar sehari-hari. Akibatnya, ia tidak bisa berjalan dengan normal, karena tumor di kakinya yang terlalu berat dan menyakitkan, sehingga Diwakar hanya bisa duduk dan makan.

Untungnya, Diwakar memiliki istri yang begitu setia merawatnya. Dobani sudah menemaninya selama 35 tahun. Sebelumnya Diwakar adalah pria pekerja keras, dia sering pergi ke hutan untuk bekerja dan mencari makan untuk keluarganya. Namun karena tumor kulit yang menggerogoti tubuhnya semakin parah dan membesar, dia sudah tidak sanggup lagi untuk bekerja. Diwakar memiliki anak-anak dan sekarang merekalah yang menjadi tulang punggung untuk memenuhi keperluan mereka sehari-hari.

Meskipun memiliki penyakit mengerikan, tapi tidak menghentikan Diwakar untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitarnya. Untungnya, mereka menghormati Diwakar dan memperlakukan Diwakar dengan baik. Tidak ada dari mereka yang menghina atau mengejek kondisi yang dia alami saat ini.

Diwakar tetap berharap dan berdoa semoga nanti ada orang yang dapat membantunya dalam keuangan,sehingga ia bisa menjalankan operasi untuk mengangkat tumor-tumornya.

Nadia Lauricella Wanita Pengidap Phocomelia Syndrome

Nadia Lauricella adalah salah satu wanita Italia yang memiliki kelainan Phocomelia Syndrome, yaitu sebuah kelainan genetik yang cukup langka dimana si penderita memiliki tangan atau kaki yang pendek, bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Di kasus Nadia, dia tidak memiliki kedua tangan, tulang belakang yang bungkuk dan kedua kaki yang kurang sempurna.


Menurut keterangan sang ibu, Giuseppina ,saat mengandung Nadia, dia rutin memeriksa kehamilannya, selama pemeriksaan tidak ada gejala atau kelainan di kehamilannya. Nadia lahir kembar, namun saudara kembarnya lahir dengan kondisi sempurna, sedangkan Nadia lahir dengan kondisi cacat.


Di masa kecilnya Nadia selalu bermain dengan saudara kembarnya. Di sekolah pun  Nadia memiliki banyak teman yang memperlakukannya dengan baik.  Beruntungnya, Nadia dikelilingi orang-orang yang menerima kondisi wanita berusia 27 tahun ini, sehingga tidak ada orang yang mengejeknya.  Satu-satunya kendala adalah tanggapan pesimis dari orang-orang di sekitarnya terhadap kemampuan aktifitas Nadia.

Semenjak itu dia berusaha keras untuk melakukan aktifitasnya sendiri, seperti berjalan, berdandan sehingga tidak menyusahkan orang lain. Saat ini Nadia menggunakan tangan buatan (Prostetik) untuk mempermudah aktifitasnya sehari-hari. Selain itu Nadia juga rajin melatih  keseimbangannya berdiri dan memperkuat kakinya.


Bahkan Nadia melakukan terapi yang cukup unik, yaitu terapi menggunakan sepeda motor. Dia juga mendirikan sebuah organisasi terapi sepeda motor yang diperuntukkan bagi para penyandang cacat.

Nadia telah memberikan inspirasi yang luar biasa bagi keluarganya maupun orang-orang disekitarnya. Dia mengajarkan untuk selalu bersyukur, jangan berputus asa, dan jangan pernah menilai seseorang hanya dari fisik/penampilannya.

Kawana Wanita Pengidap Penyakit Barber-Say Syndrome

Di Brazil, tepatnya di Kota Sao Paulo hidup seorang wanita muda bernama Kawana berusia 22 tahun yang mengidap suatu penyakit kelainan genetik yang sangat langka yaitu Barber-Say Syndrome. Penyakit ini menyebabkan kelainan fisik di tubuh Kawana antara lain, pertumbuhan rambut yang berlebihan, kulit yang sangat sensitif dan tipis seperti kertas, dan gusi yang terus tumbuh sehingga membuat mulutnya menjadi lebar. Kawana tercatat sebagai orang ketiga dari dua belas kasus Barber-Say Sindrome di dunia.

Sejak lahir Kawana tidak memiliki kelopak mata, sehingga matanya tidak bisa melihat cahaya yang terang. Selama ini dia sudah menjalani lima kali operasi bedah mata untuk mengatasi masalah kelopak matanya tersebut.

Selain itu, dia juga sudah menjalani lebih dari dua puluh kali operasi Gingivektomi, yaitu operasi pengangkatan jaringan gusi di mulutnya. Operasi ini sangat penting karena gusinya yang terus tumbuh dan memenuhi mulutnya itu mengganggu pertumbuhan giginya. Malangya, dia harus terus menjalani Gingivektomi seumur hidupnya untuk mencegah gusinya terus tumbuh.

Dengan kondisi tubuhnya ini membuat masa kecilnya menyedihkan. Ia menjadi gadis kecil yang rendah diri, pendiam dan tidak mau bersosialisasi dengan teman-teman seusianya. Ia sempat putus asa dan merasa tidak sanggup untuk menjalani hidupnya. Untungnya dia memiliki keluarga yang sangat mendukung dan menyayanginya, terutama ayahnya yang selalu memberinya semangat dan dukungan terhadap anaknya, sehingga membuatnya semakin percaya diri dan mulai menerima kondisinya saat ini.


Malangnya, sang ayah telah meninggal dunia. Tentu saja ini adalah kenyataan yang sangat menyedihkan dalam hidupnya. Saat ini Kawana hidup bersama bibinya Beth. Beth sudah menganggap Kawana seperti anak kandungnya sendiri, yang selalu merawat dan menjaga Kawana.

Kawana sejak kecil suka menari. Bersama sepupunya, dia sering merekam dan memposting hobinya tersebut di TikTok. Tidak disangka, TikTok nya disukai oleh banyak orang. Hingga saat ini TikTok Kawana sudah memiliki lebih dari 460 ribu follower.

Sejak berumur 1 bulan, dia sudah dirawat oleh seorang dokter bernama dr. Marco yang sampai saat ini terus mengikuti perkembangan kondisi kesehatannya. Kawana selalu rutin memeriksa kondisinya.  Namun sejak ayahnya meninggal, dia sempat tidak rutin mengunjungi dr. Marco. Setelah lebih dari 1 tahun, akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan memeriksa kesehatannya.

Menurut penjelasan dr. Marco, saat itu baru ada lima kasus di dunia yang memiliki kelainan genetik Barber-Say Syndrome ini. Dia juga mengikuti perkembangan psikologi Kawana. Namun saat ini perkembangannya luar biasa, dia sudah berubah menjadi wanita yang tegar, dewasa dan mulai berani bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan dia sudah menjadi terkenal di TikTok.

Pria Ini Memiliki Tangan Cakar Raksasa

Harun Gatari, nasib remaja pria asal Kenya ini tidak seberuntung orang-orang yg seumuran dengannya. Dia mengidap sebuah kelainan tulang yang sangat langka sehingga membuat kedua tangannya tumbuh seperti cakar raksasa. Pria berusia 23 tahun ini seringkali dikucilkan dan diejek oleh orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang ada yang mengatakan penyakit yang ia derita adalah sebuah pertanda buruk, pembawa sial atau kutukan sihir.

Menurut penjelasan ibunya, Hannah, Harun lahir dengan kondisi tangan yang normal. Namun saat berusia 6 tahun, penyakit tulang ini mulai muncul dari persendian jari-jari tangannya. Banyak yang menyarankan Hannah untuk membawa Harun berobat ke dukun atau paranormal, tapi sang ibu tidak mau mengikuti saran itu, karena dia yakin bahwa penyakit yang diderita Harun ini bukanlah penyakit kutukan sihir.

Harun sudah menjalani beberapa kali operasi  bedah untuk menyembuhkan penyakit langkanya ini. Namun setiap kali operasi bedah itu selesai dilakukan, tulang-tulang di tangannya kembali tumbuh.  Harun ingin melakukan perawatan medis yang lebih intensif untuk menyembuhkan penyakitnya ini, namun karena dia berasal dari latar belakang keluarga yang tidak mampu sehingga ia tidak memiliki dana untuk melakukannya.

Harun sendiri tidak memiliki pekerjaan dan tempat tinggal yang tetap. Bahkan tidak jarang dia tidur di pinggir jalan. saat ini dia tinggal bersama seorang sahabatnya yang baik hati bernama Evans. Mereka bertemu di sebuah jalan. Mereka saling berkenalan dan berbincang cukup panjang, dan akhirnya Evans memutuskan mengajak Harun untuk  tinggal bersamanya.

Evans kesehariannya adalah seorang penjual sup. Dari situlah dia bisa menghidupi dirinya dan juga Harun. Bahkan Evans memasak dan menyiapkan makan dan minum untuk Harun setiap hari. "Dia adalah teman yang baik, dan aku sangat bersyukur memiliki teman sebaik dia" ucap Harun.

Harun ingin sekali sembuh dari penyakitnya. Dia ingin memiliki tangan normal seperti orang pada umumnya, sehingga ia bisa bekerja dan tidak menjadi beban bagi orang lain.